Senin, 29 Juni 2020

Jangan Terjebak jadi Self-Employee

Cara orang mendapatkan uang itu terbagi jadi 4 tipe menurut Kiyosaki di bukunya Cashflow Quadrant. Yaitu Pekerja, Pebisnis, Self-employee, dan investor. Buku ini ini sangat saya rekomendasikan buat anda yang mau belajar binis, hatamkan juga buku Kiyosaki yang lainnya. Atau bisa baca dulu review saya di sini: https://www.garoblogz.com/2015/01/cashflow-quadrant-chapter-1.html


Artikel ini saya fokus akan bahas tentang Self Employee. Apa itu self-employee? adalah orang yang bekerja dengan mengandalkan kemampuan pribadinya, dan jika tidak ada dia, bisnis tidak berjalan.

Banyak banget contoh self-employee, dari yang sedikit uangnya sampai yang uangnya banyak. Contoh yang sedikit uangnya adalah seperti penjual gorengan, warteg, rumah makan padang. Contoh yang banyak uangnya adalah seperti dokter, pengacara, artis, toko bangunan, dst.

Banyak salah kaprah di masyarakat, bahwa bisnis itu = self-employee. Orang menganggap bahwa bisnis itu, kita harus yang paling capek, kita yang paling terjun ke lapangan, dan seterusnya. Untuk level awal bisnis, ya ini betul sekali, bahkan wajib dialami oleh semua founder bisnis. Supaya kita faham apa sih bisnis yang kita jalani, faham apa kemauan customer, dan faham kejadian di lapangan.

Tapi untuk jangka panjang, ini buruk sekali. Dengan menempatkan diri kita selalu terdepan dalam bisnis kita, membuat bisnis kita tidak berkembang. Padahal banyak hal hal lain yang harus dipikirkan oleh founder bisnis. Anda bisa lihat toko bangunan, si enci/koko nya masih jadi kasir toko kan? ya omsetnya memang besar, penghasilannya besar, tapi dia akan di situ situ terus, tidak akan bisa expansi seperti Ace Hardware / Kawan Lama.

Sepengalaman saya, 2 tahun adalah waktu yang cukup buat pebisnis untuk menarik diri dari hal hal teknis. Mulai membuat sistem agar diri kita hanya mengerjakan hal hal yang strategis saja, hal hal teknis seperti kasir, upload produk, customer service, biarkan dikerjakan oleh karyawan.

Saya pribadi, di tahun ke 5 full time bisnis, dan sejak dari SD sudah berbisnis, saat ini saya hanya mengerjakan hal teknis sebayak 20%, selebihnya saya delegasikan ke karyawan. Tujuan saya tentu bisa 90-95% pekerjaan teknis dikerjakan oleh karyawan, tapi saya terkendala biaya untuk memperkerjakan orang yang sanggup menggantikan hal teknis yang saya kerjakan. Dalam artian, bisnis saya belum berkembang berkembang banget. Baca juga: https://www.garoblogz.com/2018/12/review-buku-4-hour-work-week.html

Buatlah sistem untuk bisnis kita, usahakan sebisa mungkin pengambilan keputusan terakhir bukanlah di diri anda. Cukup di level karyawan.

Hal hal yang belum bisa saya lempar ke karyawan adalah keputusan cashflow, menjalankan FB ads, Google Ads, ads lainnya, perhitungan inventory. Ini tugas tidak mudah, yang harus dikerjakan oleh minimal S1, sedangkan karyawan saya 90% adalah lulusan SMA. Mau meng-hire S1, kami belum sanggup. Memperkerjakan S1 yang kualitas bagus, ga sanggup bayarnya, memperkerjakan S1 fresh/kurang bagus, dirasa mubazir. Jadinya ini maju kena mundur kena.

Jadi saran saya, inventarisir pekerjaan apa saja yang ada di bisnis anda. Pilah pilah, mana yang bisa didelegasikan, dan mana yang masih harus dikerjakan sendiri. Dan buatlah sistem dan prosedur yang tidak ribet, yang orang mudah untuk mengerti. Perlu diingat, turnover (tingkat berhenti) di level UMKM itu cukup tinggi, jadi kalau anda tidak membuat sistem yang adaptif, jika si karyawan resign, bisa bisa bisnis anda goyang atau kemunduran.

Kunci penting dalam meembuat sistem agar tidak terjebak jadi Self-employee adalah KEPERCAYAAN. Seberapa percaya anda terhdap karyawan anda mengerjakan sesuatu? itulah pentingnya sistem. Sistem yang dibuat harus bisa menjawab hal hal seperti:

  • bagaimana cara mengerjakan suatu pekerjaan tersebut
  • bagaimana cara pelaporan hasil pekerjaan
  • bagaimana cara ngecek kualitas pekerjaan
  • bagaimana komunikasi yang harus ditempuh dalam pekerjaan tersebut

semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Write komentar