Rabu, 27 Mei 2020

Kasihan karyawan atau kasihan perusahaan?

artikel ini agak nyambung sama artikel yang ini: https://www.garoblogz.com/2020/02/karyawan-tidak-mau-nurut.html

Jadi baru saja saya ditinggal oleh 5 karyawan saya, dan hampir dari kesemua karyawan itu resign bukan karena gaji, tapi karena tidak nyaman atau "sakit hati" ke perusahaan. Maka sejauh ini teori yang ini: https://www.garoblogz.com/2020/03/alasan-utama-karyawan-berhenti-di-umkm.html, masih benar.

Setelah saya pikir pikir, saya dan istri itu betul betul mikirin kesejahteraan karyawan. Meski kami tidak bisa menggaji besar, kami memberikan fasilitas seperti bonus, sembako tengah bulan, bebas shalat Dhuha, wajib solat tepat waktu, bahkan ngasih makan GRATIS di masa isolasi pandemik. Tapi apa respon karyawan? masih saja ada yang menganggap saya dzalim, masih saja ada yang menganggap kami ini perusahaan yang ga adil ke karyawan...

Subhanallah, saya jadi pamrih, sy jadi ga iklas soal keputusan keputusan itu. Tapi gpp, ini evaluasi besar juga buat saya. Ok secara sudut pandang saya, saya sudah berusaha untuk mensejahterakan karyawan, tapi ternyata kurang tepat sasaran. Dan kesalahan besar saya adalah terlalu kapitalis, dengan mendasari semua keputusan untuk kesejahteraan karyawan itu supaya karyawan loyal dan mau kerja lebih keras. ini tidak boleh loh, ngasih mah ngasih aja, kudu ikhlas.

Nah berangkat dari situ, saya mengevaluasi besar-besaran kebijakan perusahaan saya terkait kesejahteraan karyawan. Konsep baru tentang ini belum rampung, namun inti dari konsep baru sistem personalia bisnis saya harus berporos ke: APRESIASI karyawan yang kerja serius dan loyal

Jadi kemungkinan besar saya akan super tegas "membuang" karyawan yang kerja jelek. Pasti nanti banyak yang bilang, kasian banget karyawannya "dipecat" semena mena? nah sebenernya pola pikir ini bisa dibalik, kasihan perusahaan mengurusi karyawan yang kerja jelek, menghambat tim, sehingga perusahaan tidak bisa berkembang dengan cepat. Padahal ada juga karyawan yang kerja serius dan loyal, patut diapresiasi lebih. Jadi daripada uang bonus, uang sembako, dan lain sebagainya diberikan ke karyawan yang kerja asal asalan, mending diberikan ke karyawan yang jelas jelas loyal dan jelas jelas kontribusinya ke perusahaan..

Tidak ada komentar:
Write komentar