Minggu, 17 Mei 2020

Karyawan Penurut atau Pintar?

Udah 5 taunan saya bisnis, di skala UMKM, baru sekarang saya menemukan rumusnya soal karyawan. Jadi mulai sekarang, kalau disuruh pilih mau karyawan yang nurut atau pintar, saya akan mutlak pilih yang NURUT!

Sebenernya kedua sifat ini tidak melulu bertolak belakang sih, tapi faktanya di lapangan, orang yang pintar (atau merasa pintar) sering ga percaya dengan instruksi atasan, sehingga dia manuver sendiri, dan memberikan kegagalan buat perusahaan.

Beda halnya dengan orang yang nurut, dia merasa tidak pintar (mungkin padahal pintar), maka dia percaya penuh dengan instruksi atasan, sehingga dia mengerjakan sesuai visi atasan, sesuai keinginan perusahaan. Masalah pekerjaannya itu berhasil atau tidak bukan masalah si karyawan tapi masalah si atasan.

Di mana mana bisnis level UMKM itu, ownernya atau foundernya dijamin jauh lebih ngerti soal si bisnis ketimbang bawahannya. Mau sepintar apapun bawahannya atau karyawannya, owner pasti lebih ngerti dan lebih faham arah tujuan si perusahaan mau dibawa kemana. Oleh karenanya karyawan pintar itu seringnya sok tau, tanpa konfirmasi, merasa lebih pintar dari owner, dan membuat bisnis ga maju maju. Sebenernya kalau hal ini terjadi sekali dua kali doang sih tentu bukan masalah, tapi bagaimana kalau terjadi berbulan bulan tanpa sepengetahuan owner? bisa kacau balau

Balik lagi ke karywan yang nurut. Menurut saya nurut itu layak disandingkan dengan amanah. Atasan (owner dalam skala UMKM), memberikan instruksi tentu bukan main main, bukan hitung kancing, bukan asal asalan, pasti penuh pemikiran, pasti penuh pertimbangan, pasti dipikirkan betul betul. Makannya ketika pikiran sang owner sudah berbubah menjadi instruksi, seharusnya karyawan mengikuti itu sepenuhnya, sebagai sifat amanah dalam bekerja. ya tentu asalkan instruksinya tidak melanggar norma agama dan masyarakat ya.

Saya nulis ini sebenernya dengan sedikit rasa kesal. Karena memang betul terjadi berulang ulang, bisnis saya "diotak-atik" oleh orang pintar, padahal dia tidak cukup pintar untuk ngerti maksud dan tujuan saya ngasih instruksi tersebut. Di level karyawan dia memang pintar, tapi sekali lagi, tidak cukup pintar untuk faham apa kemauan perusahaan, dan apa visi saya. Karean otaknya ga nyampe, dan bekal ke-sok-tau-an karyawan, jadinya melakukan hal yang salah, dan ternyata ini sudah berlangsung lama, dan mereka menganggap ini adalah hal benar. duh..... baca juga: Karyawan Tidak Mau Nurut


OK jadi saya simpulkan, jika anda juga pelaku UMKM yang omset setahunnya di bawah 50M, mending cari karyawan yang nurut bukan yang pintar. terima kasih

Tidak ada komentar:
Write komentar