Senin, 06 April 2020

Mengambil keputusan sendiri = diktator?

Sering kita dengar pemimpin yang ambil keputusan sendiri itu = diktator. iya gitu? menurut saya tidak juga. Atau lebih tepatnya tergantung pemimpinnya.

Jika pemimpin itu sholeh dan berilmu cukup, saya sih lebih baik di-diktator-i oleh beliau daripada harus ngambil keputusan musyawarah.

Jujur saja saya dalam memimpin perusahaan saya, seringkali saya mengambil keputusan sendiri tanpa musyawarah. Dan sejauh ini saya tidak terlalu menyesal dengan keputusan keputusan saya tersebut. Keputusan "diktator" itu bisa cepat dilaksanakan, meski hasilnya jelek. Kalau musyawarah dulu, keputusan bisa lambat, dan belum tentu berhasil juga! jadi saya sih pilih cepat. Fail fast, learn fast.

Sebenernya yang membuat saya yakin mengambil keputusan cepat tanpa musyawarah adalah karena gap ilmu dan gap sudut pandang yang ada di perusahaan saya. Gap tersebut cukup besar.

Ibaratnya professor dan mahasiswa, daripada musyawarah antara professor dan mahasiswa, mending professor ambil keputusan sendiri. Karena jika diskusi terlebih dahulu, banyak yang tidak diketahui si mahasiswa, yang mungkin itu hal penting dan harus masuk jadi varibale keputusan.

Tapi keputusan cepat ini harus ada syaratnya, yaitu JANGAN EMOSI. Ya kadang saya emosi dalam mengambil keputusan, namun seringnya saya berpikir terus muter muter untuk menghilangkan emosi tersebut. Sehingga faktor emosi di keputusan saya bisa tertekan se rendah rendahnya.

Emosi adalah faktor pembuat keputusan yang buruk, jadi sepintar apapun anda, mengambil keputusan dengan emosi bisa berakibat fatal. Makannya pengalaman itu penting untuk membangun kebijaksanaan pemimpin. Kebijaksanaan tidak bisa dibangun sehari hari dua hari, pemimpin yang bijaksana pasti mengambil keputusan tanpa emosi pribadi.

Sebenernya ini salah saya sendiri kenapa bisa berbuat seperti ini, karena saya tidak (belum) bisa mendidik pemimpin lain selain diri saya. Prenah dengar "superhero dalam bisnis"? nah ini masih berlaku di perusahaan saya, saya masih "one man show" di perusahaan saya, saya masih jadi "superhero" di bisnis saya ini.

Tidak ada komentar:
Write komentar