Rabu, 01 April 2020

Jangan Ikut Campur Soal Sosial Karyawan

Saya membayangkan ketika saya masih jadi karyawan, trus boss saya ikut campur soal pertemanan saya dengan rekan kantor, nampaknya rasanya ga akan enak, karena merasa terawasi dalam berbagai aspek. Walaupun sebenernya saya belum pernah merasakan ini. Tapi dinamika bekerja selalu saja ada konflik antar sesama karyawan.

Sekarang ketika menjadi boss, saya mencium beberapa konflik karyawan. Bahkan bukan hanya konflik, tapi juga sampai percintaan! duh.. Secara teori dari beberapa buku yang saya baca soal kepemimpinan, seharusnya pemimpin jangan ikut campur persoalan seperti itu, karena akan membuat karyawan tidak nyaman.

Melihat konflik dan percintaan dan atau dinamika diantara karyawan saya seeringkali membuat saya gemes, dan yang parahnya saya malah sering jadi suudzon. Akibatnya jika "bersinggungan" dengan karyawan yang sedang saya "pantau" saya jadi sensitif dan memandang sebelah mata. bahaya banget ini.

Sejauh ini saya masih terus berusaha tidak ikut campur, selama dinamika antar karyawan tidak memengaruhi pekerjaan. Tapi faktanya beberapa kali saya ikut campur juga sih. hehe.

Yang pernah kerjadian adalah ketika beredar kabar negatif tentang perusahaan di kalangan karyawan, saya memverifikasi betul betul kabar negatif tersebut, dan kala itu saya merasa wajib untuk menetralisir atau mengklarifikasi. Apa hasilnya? ternyata kondisi semakin buruk! Issue negatif tentang perusahaan masih ada, ditambah beberapa karyawan malah memandang lebih negatif. Jadi harusnya bagaimana? ya menurut saya jika hal ini terjadi pada anda, perbaiki hal negatif tentang anda /perusahaan anda tersebut dengan tindakan atau kebijakan.

Contohnya gini, jadi kasus yang pernah terjadi di perusahaan saya adalah karyawan menganggap ada keputusan saya hanya untuk ngebikin susah suatu divisi saja. Waktu itu saya klarifikasi lewat omongan, bahkan sampai agak marah. Nah ini salah, harusnya saya diamkan dan terus membuat kebijakan baru yang membuat mereka sadar bahwa kebijakan saya itu bukan untuk "menjahati" suatu divisi saja, tapi untuk kebaikan bersama. Buktikan dengan aksi, bukan dengan omongan atau rapat.

Sekarang yang saya bingung adalah soal percintaan.. Ini rasanya sulit dihindari, apalagi kalau karyawan kita banyak berbeda jenis dan terdiri dari generasi milenial. Perusahaan saya berusaha sekuat tenaga untuk menjunjung tinggi syariat Islam, dimana pacaran tidak diperbolehkan. Jadi saya bingung harus bertindak apa. Di satu sisi kalau saya lakukan tindak tegas (pecat/tidak perpanjang kontrak), alasan saya pasti kurang bisa diterima oleh ybs dan akan jadi cibiran orang yang ga ngerti. Tapi kalau dibiarkan saya khawatir usaha saya ini tidak barokah, wallahualam.


Tidak ada komentar:
Write komentar