Minggu, 29 Maret 2020

Jangan Berbisnis di Air Keruh

Air keruh yang saya maksud adalah pasar yang jenuh, jadi di kondisi pasar yang jenuh adalah ketika pertambahan supplier atau konsumen di pasar tersebut tidak ada pertambahan yang progresif. Biasanya pasar jenuh ini adalah pasar yang highly regulated oleh pemerintah.

Atau bisa saja kita bilang bisnis yang jenuh ini adalah bisnis yang tidak scalable, bisnis yang tidak bisa bertambah menjadi 1000x lipat, atau bisa juga bisnis yang tidak mungkin bisa menjadi menguasai dunia. duh kok jadi lebay hehe..

Sepertinya masih bingung. Berikut contoh contoh bisnis yang sudah jenuh:

Bisnis Gas LPG

Bisnis ini hanya memiliki supplier tunggal utama, yaitu PERTAMINA. dan perlu anda tau, karena saya ernah berpikiran untuk bisnis ini, supply dari pertamina ke Agen / pengecer itu dibatasi. Jadi profit anda sudah ditentukan maksimalnya oleh Pertamina, artinya anda tidak bisa scale up kan? dengan usaha apapun anda tidak bisa membuat bisnis Gas LPG ini menjadi profit 1000x lipat dari sebelumnya..

Bisnis Aqua

Ini mirip mirip dengan bisnis gas LPG, hanya saja pengaturan supply tidak begitu ditentukan oleh Aqua atau brand lainnya. Yang membuat bisnis ini tidak bisa scale up adalah karena persaingan sudah terlalu banyak, hampir di setiap komplek atau kampung ada setidaknya 1 toko Aqua galon. atau Aqua isi ulang. ya ga? kenapa bisa gini, karena semua berpikiran Bisnis Aqua itu gampang, dan minim resiko. Nah karena minim resiko inilah yang membuat bisnis ini tidak bisa scape up 1000x.

Bisnis Pulsa

Duh ini jangan tanya. Mau jualan pulsa di jaman sekarang? sekarang Tokopedia, Gojek, Shopee, Bank sudah melirik bisnis pulsa ini. Perorangan nyaris ga punya nilai lebih selain MURAH. Tapi selisihnya pun paling 1000-2000 perak saja. Bila dibandingkan dengan praktisnya beli pulsa di Tokopedia tentu lebih mahal 1000-2000 rupiah tidak masalah buat kebanyakan orang. Jadi bisnis ini tidak scalable karena sudah terlalu banyak yang menjadi supplier, bahkan "pemain" besar juga ikutain main.

Bisnis Cuci Motor

Ini pernah saya alami sendiri, silahkan baca: Usaha Cuci Motor Tutup Merugi Bangkrut. Sebenernya persaingan bisnis cuci motor atau cuci mobil tidak lah terlalu ketat, pasarnya pun cukup besar, namun yang jadi masalah adalah BIAYA PRODUKSI terlalu tinggi jika ingin membuat bisnis cuci motor bisa scale up. Bisnis yang scale up itu pindah ke tempat yang lebih besar, karyawan yang lebih banyak, ke tempat yang lebih ramah --> ini semua membuat biaya produksi cuci motor jadi semaki tinggi dan semakin tinggi. Sedangkan masih banyak di luaran sana penyedia cuci motor atau cuci mobol yang tidak ngontrak, mengerjakan sendiri (self-employee) --> ini membuat harga produksi cuci motor/mobil mereka jauh lebih murah. Jadi bisnis Cuci Motor itu tidak akan scaleup karena persaingan "tidak sehat"

Resiko Kecil (low risk)

Daaaaan masih banyak lagi bisnis-bisnis lainnya yang jenuh alias berada di air keruh. Setidaknya dari ke-empat bisnis tersebut persamaannya adalah RESIKO KECIL

  • Jualan gas LPG --> kalau tidak laku? tidak mungkin karena semua orang butuh --> resiko kecil
  • Jualan Aqua --> tidak akan basi, jika tidak laku tinggal obral --> resiko kecil
  • Bisnis pulsa --> jika tidak laku? pakai sendiri aja, toh pasti kepake ya ga? --> resiko kecil
  • Bisnis cuci motor --> khusus untuk yang tidak ngontrak dan self employee, jika tidak laku? tidak ada biaya yang dikeluarkan! --> resiko kecil
==

Jadi kesimpulannya adalah, jika anda mau berbisnis dalam jangka panjang, jangan pilih bisnis yang resikonya kecil. Tapi jika anda hanya bertujuan untuk belajar berbisnis, bisnis resiko kecil ini cocok sekali

sekian semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Write komentar